Ketidakpastian pasokan dan harga bahan bakar minyak (BBM) akibat tensi geopolitik global mulai memberikan tekanan serius pada sektor logistik Indonesia. Industri yang sangat bergantung pada distribusi harian kini dipaksa mencari solusi baru agar biaya operasional tetap terkendali tanpa mengorbankan efisiensi.
Di tengah situasi tersebut, kendaraan listrik mulai menunjukkan perannya bukan sekadar tren teknologi, melainkan solusi operasional yang semakin realistis untuk sektor distribusi. Langkah PT Primarajuli Sukses (PRS), anak perusahaan PT Ever Shine Tex Tbk, menjadi salah satu contoh menarik bagaimana elektrifikasi perlahan mulai masuk ke industri logistik nasional.
Bekerja sama dengan KALISTA sebagai penyedia ekosistem kendaraan listrik komersial, PRS mulai mengoperasikan armada truk listrik untuk kebutuhan distribusi produk di wilayah Jakarta dan Bandung. Langkah ini menjadi cukup penting karena sektor tekstil selama ini dikenal memiliki aktivitas distribusi yang tinggi dan padat operasional.
Yang menarik, transisi ini dilakukan melalui skema fleet-as-a-service dengan model operating lease. Pendekatan tersebut membuat perusahaan tidak perlu mengeluarkan investasi besar di awal untuk membeli kendaraan listrik beserta infrastrukturnya. Seluruh pengelolaan armada, mulai dari pemeliharaan, layanan purna jual, hingga sistem monitoring berbasis IoT ditangani oleh KALISTA.
Model seperti ini sebenarnya bisa menjadi jawaban atas salah satu kekhawatiran terbesar pelaku industri terhadap kendaraan listrik komersial, yaitu tingginya biaya investasi awal dan kompleksitas operasional. Dengan skema tersebut, perusahaan bisa langsung fokus pada efisiensi distribusi tanpa harus direpotkan urusan teknis kendaraan.

Dalam implementasi awalnya, PRS mengoperasikan enam unit truk listrik Foton yang digunakan untuk mendistribusikan produk ke berbagai perusahaan besar seperti Uniqlo, Shopee, Gojek, Grab, hingga Eiger. Hasil uji coba yang dilakukan sebelumnya menunjukkan angka yang cukup menarik: penghematan biaya bahan bakar diklaim mencapai hingga 40 persen.
Jika angka tersebut konsisten dalam operasional jangka panjang, maka kendaraan listrik berpotensi mengubah struktur biaya logistik secara signifikan. Di tengah harga BBM yang fluktuatif, efisiensi energi menjadi faktor yang semakin krusial bagi keberlangsungan bisnis distribusi.
Selain penghematan energi, aspek operasional juga mulai menunjukkan perkembangan positif. Armada Foton E-Miller dan E-Aumark yang digunakan memiliki daya angkut hingga 4 ton dengan kemampuan jarak tempuh sekitar 200 km dalam sekali pengisian daya. Untuk rute Jakarta-Bandung, proses charging dilakukan saat waktu istirahat sopir sehingga tidak mengganggu ritme distribusi harian.
Hal ini menunjukkan bahwa kendaraan listrik komersial sebenarnya mulai cukup siap digunakan untuk kebutuhan logistik jarak menengah, setidaknya untuk distribusi antarkota dengan pola operasional yang sudah terencana.
Di sisi lain, keberadaan infrastruktur pengisian daya masih menjadi faktor penting dalam keberhasilan implementasi kendaraan listrik komersial. Dalam kasus ini, KALISTA tidak hanya menyediakan armada, tetapi juga membangun strategi charging melalui SPKLU internal maupun jaringan pengisian daya di jalur operasional Jakarta-Bandung.
Pendekatan ekosistem seperti inilah yang tampaknya akan menjadi kunci percepatan adopsi EV di sektor logistik Indonesia. Sebab tantangan kendaraan listrik bukan hanya soal produk, melainkan kesiapan sistem pendukung secara menyeluruh.
Menariknya lagi, implementasi ini juga memberikan dampak lingkungan yang cukup signifikan. Berdasarkan hasil uji coba, penggunaan armada listrik mampu menurunkan emisi hingga 30 persen sekaligus menekan total biaya operasional sekitar 27 persen per bulan.
Angka tersebut menjadi sinyal bahwa kendaraan listrik komersial bukan hanya berbicara soal keberlanjutan lingkungan, tetapi juga mulai masuk akal secara bisnis.
Ke depan, langkah PRS dan KALISTA kemungkinan besar akan menjadi referensi bagi industri lain yang memiliki kebutuhan distribusi serupa. Tekanan biaya energi dan tuntutan keberlanjutan diperkirakan akan membuat semakin banyak perusahaan mempertimbangkan elektrifikasi armada logistik mereka.
Meski transisi penuh menuju kendaraan listrik masih membutuhkan waktu panjang, implementasi seperti ini menunjukkan bahwa perubahan sudah mulai berjalan. Dan bagi industri logistik Indonesia, efisiensi energi tampaknya akan menjadi salah satu faktor penentu daya saing di masa depan.

